Soto Mie, siapa yang gak kenal dengan jenis makanan satu ini. Bila ada yang belum mengenal atau belum pernah mencoba mari kita minta traktir pada mereka yang sudah pernah makan (kompor mledug).Dan saya termasuk salah satu pengemar favorit makanan ini (terutama diakhir-akhir ini dimana udara sangat mendukung sekali untuk menyantapnya). Seandainya para pembaca nan budiman disini ada yang kenal dengan sang penemu jenis makanan ini tolong kabari saya, cause saya mau cium tangan dengannya.
Tak ada yang istimewa pertamakali melihat isi dari makanan tersebut. Berisi semangkuk air panas mendidih, berpadu dengan bumbu-bumbu, ditambah mie kuning atau putih, risol, daging serta lemak (Ah… makanan tidak sehat, penuh dengan kolesterol kata beberapa orang sahabat). Begitu pula dengan lokasi tempat jualannya, berada dipojokkan sebuah gang sempit tanpa AC diiringi alunan lagu dangdut dari sebuah radio swasta. Berperawakan kurus, tidak begitu tinggi, kulit sawo matang dan kumisan (tidak ada gantengnya dah bila dibanding saya :D) serta ditemani oleh 2 orang pelayan yang semok dan montok. Tarjo nama sang penjual soto mie tersebut.
Siang ini, kulihat lapak Tarjo dipenuhi dengan para fans (sampai-sampai Tarjo gak keliatan). Dengan sabar kumenunggu hingga para fans tersebut mereda. “Jo… Satu dong pakai nasinya dobel” ujarku. “Sabar yo Mas… Mangkoke Nte” ujar Tarjo dengan logat khasnya tanpa senyum sambil membuat soto mie ke dalam 2 mangkok terakhir.
“Sial, kalo tau gitu saya bawa mangkok dari rumah aja” Gerutuku dalam hati sambil berdiri dengan mata jelalatan siapa tau ada Luna Maya makan disini.
“Ini Mba, pesanannya” kata waitress si Tarjo sambil ngantar pesanan ke 2 wanita Modiss tak jauh dariku berdiri.
“Yang gak pakai Kol dan Tomat yang mana nih…?” seru si Mba yang imut salah seorang wanita modis itu.
Tarjo yang mendengar pertanyaan tersebut terkejut “Aduh Mba saya lupa, semuanya pakai tomat dan kol” katanya
“Aduh Kan Tadi sudah saya bilangin, saya gak mau… Saya gak bisa makan Kol dan Tomat” ujar si Mba Imut dengan setengah kesal dengan bibir sedikit maju.
Tarjo dengan setengah kebingungan “Aduh Mba, mangkoknya habis. Kalau Mba mau tunggu sebentar, nanti saya buatin lagi yach…” berusaha merayu dengan menampakan nyengir termanisnya dan sesekali matanya berkedap-kedip genit.
“Oke saya tunggu ajah deh” Jawab si Mba Imut.
Saya yang sedari tadi mendengar adegan tersebut terhenyak dengan sigap langsung menyahut “Jo… yang itu untuk saya aja, saya gak pakai pantangan kok”
“Nih, untuk sampean…” sambil menyodori semangkok Soto Mie tersebut ke saya.
Tanpa basa-basi dengan orang yang ngantri lainnya, langsung saja soto mie tersebut saya sambar dan balurin dengan kecap manis, sedikit cuka serta 3 sendok sambal. Sekarang saatnya show time… “Mba, nasinya jangan lupa… DOBEL” ujarku bersemangat. (Untung saya gak punya pantangan dalam makanan.)
Setelah mencapai klimaks karena isi perut sudah padat dan dengan muka penuh peluh sambil membakar sisa lintingan yang terselip di dompet. Saya berdiri menghampiri Tarjo dan setengah berbisik “Jo… Sekalian yach, masukin sama yang kemaren aja” ujarku sambil berlalu. Tak terdengar sedikit pun ucapan yang keluar dari bibir Tarjo yang doer itu, mungkin ia hanya bisa mengerutu dalam hati.
Begitulah saking seringnya saya makan siang disana hingga timbul keakraban diantara kami dan akhirnya bisa saling memahami keadaan dan kondisi masing-masing (cuma kayaknya kebanyakan saya yang di maklumi olehnya). That’s Why I Love Soto Mie…. :p
*Tulisan iseng sehabis nyantap Soto Mie,
Lokasi Fiktif dan Bila ada kesamaan Nama Tokoh dalam cerita itu hanya kebetulan. Ditengah, gelapnya siang ini. :D:D